MENU Sabtu, 07 Mar 2026
x

Ahli Urologi RSUD Jombang Menyebut Batu Saluran Kemih Dapat Dicegah, Berikut Tips Hidup Sehat

waktu baca 4 menit
Senin, 10 Nov 2025 09:15 161 Redaksi

JOMBANG – Penyakit batu saluran kemih masih menjadi persoalan serius bagi sebagian besar masyarakat, terutama karena sering muncul mendadak dengan gejala yang menyakitkan.

Dokter Spesialis Urologi RSUD Jombang, dr. Fakhri Surahmad, M.Kes., Sp.U, mengingatkan bahwa penyakit ini tidak boleh dianggap remeh.

Dalam dialog kesehatan yang diselenggarakan di Ruang Bung Hatta RSUD Jombang pada Sabtu (23/8/2025), dr. Fakhri menjelaskan bahwa batu saluran kemih terbentuk dari endapan mineral dan garam dalam urine yang kemudian mengeras menjadi kristal.

Kristal tersebut selanjutnya menyumbat saluran kemih dan menimbulkan gejala. Batu dapat menyumbat di sepanjang saluran kemih, mulai dari ginjal, ureter, kandung kemih, maupun di uretra.

“Masalahnya, batu ginjal sering tidak menimbulkan gejala di awal. Namun, ketika batu sudah membesar, kemudian bergeser dan menyumbat, akan muncul gejala antara lain: rasa sakit hebat di pinggang, mual, muntah, demam, hingga kesulitan buang air kecil,” terangnya.

Faktor Risiko Penyebab Batu Ginjal

Menurut dr. Fakhri, gaya hidup menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya kasus batu ginjal. Kurangnya konsumsi air putih menyebabkan urine menjadi pekat sehingga memicu terbentuknya endapan.

Selain itu, konsumsi makanan tinggi garam, protein hewani, dan minuman dengan zat aditif juga memperbesar risiko. Faktor risiko lain meliputi faktor genetik/keturunan, obesitas, hingga penyakit metabolik lainnya.

“Apabila tubuh kekurangan cairan, otomatis risiko pembentukan batu semakin tinggi. Oleh karena itu, pola minum, pola makan, serta pola aktivitas sangat menentukan. Terutama makanan yang mengandung asam urat dan oksalat tinggi, seperti jeroan, sarden, ayam goreng, bebek goreng, burung puyuh/dara, kepiting, emping, dan tapai,” jelasnya.

Penanganan Terkini Batu Saluran Kemih Tanpa Pembedahan

“Saat ini telah berkembang metode penanganan batu saluran kemih tanpa sayatan atau pembedahan terbuka. Dengan demikian, nyeri pascatindakan minimal, waktu perawatan lebih cepat, dan pasien dapat segera beraktivitas seperti sebelumnya. Tentu saja, pemilihan tindakan ini akan disesuaikan dengan indikasi, antara lain ukuran serta lokasi batu,” jelas dr. Fakhri.

Menurutnya, batu berukuran kurang dari diameter saluran kemih (sekitar 0,5 cm), jika tidak ada penyempitan di bawahnya serta keluhannya tidak terlalu berat, diharapkan dapat keluar sendiri dengan pemberian obat yang melemaskan saluran kemih serta penambahan aktivitas fisik seperti jalan cepat atau melompat-lompat.

“Untuk batu berukuran lebih dari 0,5 cm atau yang gagal dengan pengobatan, tindakannya dilakukan dengan cara memasukkan alat endoskopi Ureterorenoscope (URS) berukuran kecil (<0,5 cm) melewati saluran kemih. Kemudian, penyebab sumbatan tersebut dilebarkan atau dipecahkan menggunakan alat khusus pemecah batu. Salah satu alat yang telah dimiliki RSUD Jombang adalah menggunakan laser holmium,” dr. Fakhri menambahkan.

Sementara itu, sambung dia untuk batu berukuran kurang dari 2 cm, dapat dilakukan tindakan minimal invasif berupa Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) maupun menggunakan alat fleksibel URS, yaitu Retrograde Intra Renal Surgery (RIRS).

ESWL dilakukan secara poliklinis/rawat jalan, sedangkan RIRS memerlukan rawat inap karena membutuhkan pembiusan total.

“Untuk batu ginjal dengan ukuran lebih dari 2 cm, dilakukan tindakan Percutaneous Nephrolitholapaxy (PCNL) dengan membuat sayatan kecil sekitar 1 cm pada pinggang. Selanjutnya, jarum dimasukkan ke dalam saluran yang terdapat batunya, saluran tersebut dilebarkan, kemudian dimasukkan alat endoskopi. Batu dipecah dan dikeluarkan dari ginjal,” ujar dr. Fakhri.

Namun demikian, kata dia apabila batunya merupakan batu cetak ginjal atau ukurannya sangat besar, alternatif penanganannya adalah operasi terbuka.

Tips Hidup Sehat agar Terhindar dari Batu Ginjal

dr. Fakhri juga memberikan beberapa kiat sederhana namun penting agar masyarakat dapat terhindar dari penyakit ini:

1. Perbanyak minum air putih, minimal 2–3 liter per hari, agar ginjal dapat bekerja optimal.
2. Kurangi konsumsi garam, daging merah, dan makanan olahan yang tinggi pengawet.
3. Perbanyak buah dan sayuran yang kaya serat serta mengandung sitrat, seperti jeruk dan lemon, untuk membantu mencegah kristalisasi batu.
4. Rajin bergerak atau berolahraga untuk memperlancar metabolisme tubuh.
5. Cek kesehatan secara rutin, terutama bagi yang memiliki riwayat keluarga dengan batu ginjal.

“Pencegahan jauh lebih mudah daripada mengobati. Kalaupun sudah terkena, pasien tidak perlu khawatir karena dengan berkembangnya teknologi saat ini, pasien tidak harus menjalani tindakan medis dengan sayatan atau operasi terbuka,” jelasnya.

dr. Fakhri berharap, melalui edukasi ini, masyarakat lebih peduli pada kesehatan ginjal.

“Banyak pasien datang ke rumah sakit dalam kondisi sudah parah karena kurang memahami gejala awal. Saya ingin masyarakat lebih waspada, menjaga pola hidup, dan tidak menunda pemeriksaan jika ada keluhan,” ujarnya. (***) 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x
x