MENU Sabtu, 07 Mar 2026
x

Harmoni di Kota Santri, Merawat Kebinekaan sebagai Tameng Konflik Sosial

waktu baca 3 menit
Minggu, 16 Nov 2025 01:11 63 Redaksi

JOMBANG – Di tengah dinamika sosial yang kian kompleks, upaya merawat persatuan dan mencegah potensi konflik menjadi keniscayaan. Kabupaten Jombang, yang dikenal sebagai Kota Santri, mengambil langkah proaktif melalui penyelenggaraan Kenduri Kebinekaan, sebuah kegiatan yang bertujuan memperkuat harmoni sosial dan menjaga ketertiban masyarakat (Kamtibmas).

Acara yang dipusatkan di ruang Virgo Gym, Desa Bawangan, Kecamatan Ploso, pada Jumat (14/11/2025) ini, menjadi ajang konsolidasi berbagai elemen masyarakat. Turut hadir dalam kegiatan tersebut para tokoh masyarakat, perwakilan pemuda, perangkat desa, unsur keamanan, hingga perwakilan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jawa Timur.

Anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi Partai Golkar, Sumardi, yang hadir sebagai salah satu pemateri, menegaskan bahwa Kenduri Kebinekaan merupakan langkah strategis. Menurutnya, pendekatan budaya dan semangat kebersamaan adalah kunci dalam memperkuat fondasi sosial masyarakat.

“Kegiatan ini membuat masyarakat lebih siap mencegah konflik dan menjaga situasi Kamtibmas tetap kondusif,” ujar Sumardi.

Ia memaparkan bahwa konflik sosial di tengah masyarakat sering kali dipicu oleh faktor-faktor kompleks. “Konflik sosial biasanya muncul dari kesalahpahaman, isu identitas, ketimpangan ekonomi, atau provokasi pihak tertentu,” jelasnya.

Oleh karena itu, Sumardi mewanti-wanti agar potensi gesekan sekecil apa pun harus segera ditangani dan tidak dibiarkan berkembang menjadi gangguan keamanan yang lebih serius.

Aspek kebudayaan sebagai perekat sosial juga disoroti oleh perwakilan Bakesbangpol Jatim.

Kepala Bidang Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik Bakesbangpol Jatim, Doni Nugroho Susanto, menjelaskan bahwa wilayah Jawa Timur terbagi menjadi 10 tlatah atau kawasan kebudayaan.

Empat di antaranya adalah tlatah kebudayaan besar, yakni Mataraman, Arek, Madura Pulau, dan Pandalungan.

“Tlatah inilah yang kemudian membedakan karakteristik masyarakat di Jawa Timur berdasarkan wilayahnya,” kata Doni, menunjukkan pentingnya memahami keragaman lokal sebagai modal sosial.

Isu kebinekaan dan harmoni sosial juga tidak lepas dari tantangan di era digital. Narasumber lain, Immanuel Yosua Tjiptosoewarno, Dosen STTIIA Mojokerto, menyoroti bagaimana perkembangan teknologi telah mengubah pola interaksi sosial dan memunculkan tantangan baru, terutama terkait fragmentasi masyarakat.

“Masyarakat terfragmentasi, terbelah berdasarkan kelompok online, algoritma, dan pandangan politik atau agama,” ungkap Immanuel.

Ia menilai bahwa ruang digital menawarkan kebebasan berekspresi, namun kebebasan ini juga kerap dimanfaatkan oleh kelompok yang menyuarakan pandangan ekstrem.

Immanuel menekankan bahwa meskipun akses informasi menjadi lebih cepat, masyarakat juga rentan terhadap manipulasi informasi jika tingkat literasi digitalnya rendah. Potensi disinformasi dan berita palsu inilah yang dapat memicu perpecahan dan konflik.

Melalui Kenduri Kebinekaan ini, seluruh peserta diajak untuk kembali merenungkan dan menyadari pentingnya toleransi, semangat kebersamaan, dan kewaspadaan kolektif.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi seremonial, tetapi menjadi pengingat berkelanjutan bahwa menjaga harmoni sosial adalah tanggung jawab bersama, demi terciptanya Jombang yang aman, damai, dan bersatu.

Editor: G Setyawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x
x