JOMBANG – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jombang dari Fraksi PDI Perjuangan, Jawahirul Fuad, mengoptimalkan instrumen olahraga sebagai media komunikasi politik dan penjaringan aspirasi masyarakat.

Melalui kegiatan sepak bola lintas generasi, Fuad berupaya mempererat kohesi sosial sekaligus memantau kondisi akar rumput secara langsung.

Anggota DPRD Jombang Fraksi PDI Perjuangan, Jawahirul Fuad (kiri).
Pantauan di Lapangan Desa Tambar, Kecamatan Jogoroto, pada Minggu (4/1/2026), menunjukkan antusiasme tinggi dari puluhan pesepak bola yang datang dari berbagai wilayah di Kabupaten Jombang.
Agenda latihan bersama yang melibatkan sedikitnya empat regu ini telah bertransformasi menjadi ruang publik yang inklusif bagi warga.

Tim LOGAM JAYA.
Jawahirul Fuad, yang juga merupakan mantan Kepala Desa Tambar, menegaskan bahwa inisiatif ini bukan sekadar rutinitas fisik.
Menurutnya, sepak bola kampung adalah medium strategis untuk menjangkau berbagai kelompok usia, mulai dari remaja hingga kelompok usia di atas 40 tahun (Old Star).
“Kegiatan ini rutin kami laksanakan sebagai upaya menjaga kebugaran masyarakat. Namun lebih dari itu, ini adalah wadah positif bagi generasi muda untuk mengasah bakat agar mampu menjadi atlet yang kompetitif di masa depan,” ujar Jawahirul Fuad.
Ia menambahkan bahwa di sela-sela pertandingan, dirinya kerap menerima masukan langsung dari warga mengenai berbagai persoalan lokal. Hal ini dinilai lebih efektif dan cair dibandingkan melalui forum formal.
Berbeda dari pekan sebelumnya, sesi latihan kali ini diakhiri dengan prosesi pemotongan tumpeng dan doa bersama. Agenda tersebut digelar sebagai bentuk refleksi syukur atas soliditas antarwarga yang tetap terjaga.
“Ini adalah ungkapan syukur atas nikmat kesehatan dan kebersamaan. Kami ingin semangat ‘guyup rukun’ ini terus terawat,” imbuhnya.
Senada dengan hal tersebut, Sukoco, salah satu aparatur Pemerintah Desa Peterongan yang turut hadir, memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi Legislator Jombang, Jawahirul Fuad.
Sukoco yang telah menekuni sepak bola selama dua dekade ini mengaku kenyamanan infrastruktur dan pengelolaan kegiatan di Desa Tambar menjadi daya tarik tersendiri.
“Bagi kami, ini bukan sekadar olahraga untuk kesehatan, melainkan sarana silaturahmi yang efektif. Kami bisa menyampaikan aspirasi secara langsung kepada wakil rakyat dalam suasana yang lebih santai namun tetap subtansial,” ungkap Sukoco.
Langkah Jawahirul Fuad ini menjadi potret bagaimana fungsionaris legislatif mencoba meruntuhkan sekat birokrasi dengan hadir langsung di tengah aktivitas harian konstituennya.
Tidak ada komentar