

Sampah yang berada di sungai dibersihkan oleh Dinas PUPR menggunakan ekskavator. (Istimewa) JOMBANG – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Jombang terus memperkuat benteng pertahanan daerah terhadap ancaman banjir.
Pada Rabu (1/4/2026), otoritas terkait mengerahkan alat berat untuk menormalisasi aliran sungai di Jembatan Avour Watudakon, Desa Pojokrejo, Kecamatan Kesamben, guna mengantisipasi penyumbatan aliran air yang kian krusial di tengah cuaca ekstrem.
Langkah ini diambil menyusul terjadinya penumpukan material sampah domestik dan limbah alam yang tersangkut pada pilar jembatan, yang jika dibiarkan, berpotensi memicu luapan air ke pemukiman warga dan lahan pertanian di wilayah Kesamben.
Berbeda dengan pembersihan manual, kali ini Dinas PUPR Jombang menerjunkan unit Excavator Pindad PC 140.
Penggunaan alat berat produksi dalam negeri ini dipilih karena spesifikasinya yang mumpuni untuk menjangkau titik-titik sulit di bawah konstruksi jembatan serta memiliki kapasitas angkut material yang besar.
Proses evakuasi sampah berlangsung intensif sejak pagi hari. Berbagai jenis sampah, mulai dari sumbatan bambu (barongan), ranting pohon, hingga limbah rumah tangga, diangkat dari dasar sungai untuk mengembalikan fungsi hidrolis saluran Avour Watudakon.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Jombang, Imam Bustomi, menegaskan bahwa pembersihan ini merupakan bagian dari agenda rutin yang ditingkatkan statusnya menjadi prioritas selama musim penghujan.
Menurutnya, sumbatan di bawah jembatan sering kali menjadi penyebab utama terjadinya backwater atau aliran air balik yang memicu banjir rob di hulu sungai.
“Pembersihan ini rutin kami lakukan sebagai langkah konkret menangkal bencana alam, khususnya banjir. Fokus kami adalah memastikan tidak ada hambatan pada struktur bangunan air seperti jembatan ini, karena di sinilah titik paling rawan terjadinya penumpukan sampah,” ujar Bustomi.
Bustomi menambahkan bahwa saluran Avour Watudakon memiliki peran vital dalam sistem drainase regional di Kecamatan Kesamben. Sedikit saja hambatan di titik ini dapat berdampak luas pada mobilitas dan ekonomi masyarakat desa sekitar.
Meskipun Tim Unit Reaksi Cepat (URC) dari Dinas PUPR dikerahkan secara berkala, Imam Bustomi mengingatkan bahwa solusi permanen dari banjir bukan hanya pada normalisasi sungai, melainkan pada perubahan perilaku kolektif.
Catatan Strategis Dinas PUPR Jombang:
Normalisasi Berkala: Melakukan pengerukan sedimen dan pembersihan sampah secara terjadwal di titik-titik rawan.
Optimalisasi Alat Berat: Memastikan seluruh armada, termasuk Excavator Pindad PC 140, dalam kondisi prima untuk penanganan darurat.
Edukasi Publik: Mengajak warga desa di sepanjang aliran sungai untuk berhenti menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan akhir.
“Kami bekerja di hilir dengan membersihkan sampah, namun harapan besar kami adalah masyarakat di hulu juga ikut menjaga dengan tidak membuang sampah ke sungai. Dengan aliran yang lancar, risiko banjir dapat kita minimalisir secara signifikan,” pungkas Bustomi.
Dengan tuntasnya pembersihan di Jembatan Avour Watudakon ini, Dinas PUPR Jombang memastikan akan terus memantau titik-titik jembatan lain di seluruh Kabupaten Jombang yang memiliki karakteristik serupa guna menjamin keamanan warga dari ancaman luapan air. (***)
