MENU Kamis, 23 Apr 2026
x

Waspadai Gejala Pembesaran Prostat Jinak! Lebih dari 70 Persen Pria Lansia Alami Gangguan Ini

waktu baca 3 menit
Jumat, 17 Apr 2026 09:06 18 Redaksi

JOMBANG – Gangguan pembesaran prostat jinak atau Benign Prostate Hyperplasia (BPH) sering kali diabaikan oleh sebagian besar pria, padahal kondisi ini berpotensi menurunkan kualitas hidup secara signifikan.

Guna mengedukasi masyarakat, program “Humas Menyapa” RSUD Jombang menghadirkan spesialis urologi, dr. Rahmat Husein, Sp.U, untuk membedah tuntas gangguan kesehatan yang lazim dialami pria lanjut usia (lansia) tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Rahmat menjelaskan bahwa prostat merupakan kelenjar kecil seukuran kacang kenari yang terletak di bawah kandung kemih dan melingkari saluran kemih (uretra).

Organ ini berfungsi memproduksi cairan semen yang memberi nutrisi bagi sperma. Namun, seiring bertambahnya usia, kelenjar ini rentan mengalami pembesaran yang memicu berbagai gangguan pada saluran kemih.

“Prevalensi gejala pembesaran prostat pada pria rentang usia 50 hingga 60 tahun mencapai 60 sampai 70 persen. Sementara itu, pada usia di atas 80 tahun, hampir 90 persen pria mengalami keluhan serupa. Salah satu faktor pemicunya adalah pengaruh hormon testosteron yang memengaruhi pertumbuhan sel-sel prostat,” ujar dr. Rahmat.

Ia menekankan pentingnya mengenali gejala awal pembesaran prostat secara dini.

“Gejala awal yang umum dirasakan adalah peningkatan frekuensi berkemih, terutama pada malam hari yang menyebabkan penderita sering terbangun. Selain itu, gejala lainnya meliputi pancaran urine yang melemah, kesulitan saat memulai buang air kecil (mengejan), hingga aliran urine yang terputus-putus,” paparnya.

dr. Rahmat mengimbau para pria berusia 50 tahun ke atas untuk lebih waspada dan tidak ragu menjalani pemeriksaan medis guna memantau kesehatan prostat.

Saat ini, RSUD Jombang telah dilengkapi berbagai fasilitas pemeriksaan, salah satunya uroflowmetri untuk menilai kekuatan pancaran urine.

“Semakin dini gangguan dikenali dan diperiksakan, maka penanganan medis akan jauh lebih optimal,” tambahnya.

Terkait metode terapi, dr. Rahmat menjelaskan bahwa penanganan medis disesuaikan dengan derajat keparahan gejala pasien.

“Tindakan bedah tidak selalu menjadi pilihan utama. Untuk kasus dengan gejala ringan, pemberian obat-obatan dan modifikasi pola hidup masih menjadi prioritas. Operasi baru dilakukan apabila terdapat indikasi medis tertentu atau muncul komplikasi, seperti retensi urine total atau kencing berdarah,” jelasnya.

RSUD Jombang kini menyediakan teknologi bedah mutakhir, yakni laser Holmium. Prosedur Holmium Laser Enucleation of the Prostate (HoLEP) hadir sebagai solusi modern untuk menangani pembesaran prostat secara minimal invasif tanpa sayatan.

Teknologi ini menawarkan keunggulan berupa risiko pendarahan yang lebih rendah serta masa pemulihan pasien yang lebih cepat. Penggunaan teknologi ini juga diharapkan dapat meminimalkan risiko kekambuhan pascaoperasi.

Di akhir pemaparannya, ia memberikan pesan edukatif bagi masyarakat.

“Pembesaran prostat jinak pada dasarnya tidak dapat dicegah secara total. Namun, upaya yang bisa dilakukan adalah mengantisipasi agar gejala tidak memburuk, melalui diet rendah lemak, konsumsi makanan tinggi serat seperti buah dan sayur, menjaga berat badan ideal, membatasi kafein, serta rutin berolahraga,” pungkasnya.

Melalui program “Humas Menyapa” ini, RSUD Jombang berharap dapat memperluas wawasan masyarakat, khususnya kaum pria, agar lebih peduli terhadap kesehatan saluran kemih dan tidak mengabaikan keluhan medis yang sering dianggap sepele. (***)

LAINNYA
x
x