MENU Minggu, 05 Jul 2026
x

Jombang Cetak Sejarah Inklusi: Pelopori Simulasi Bencana Bagi Siswa SLB Dua Tahun Berturut-turut

waktu baca 2 menit
Minggu, 26 Apr 2026 19:30 45 Redaksi

JOMBANG – Pemerintah Kabupaten Jombang kembali menegaskan posisinya sebagai pionir penanggulangan bencana inklusif di Indonesia. Dalam peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026 yang digelar di RTH Kebon Ratu, Minggu (26/4/2026), Jombang menjadi satu-satunya daerah yang konsisten melibatkan siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) sebagai aktor utama simulasi kebencanaan selama dua tahun terakhir.

Langkah ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya konkret mendobrak stigma. Melalui tema “Siap untuk Selamat: Bersatu dalam Siaga, Tangguh Menghadapi Bencana”, Pemkab Jombang memposisikan penyandang disabilitas sebagai subjek yang berdaya, bukan sekadar objek perlindungan yang pasif.

Sekretaris Daerah Kabupaten Jombang, Agus Purnomo, S.H., M.Si., yang hadir membacakan sambutan Bupati Jombang Warsubi, menegaskan bahwa keselamatan adalah hak dasar tanpa pengecualian.

“Penyandang disabilitas harus memiliki peran aktif dalam sistem penanggulangan bencana. Kami berkomitmen memperkuat kapasitas mereka melalui akses informasi yang ramah disabilitas dan jalur evakuasi yang aksesibel,” ujar Agus Purnomo.

Senada dengan hal tersebut, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdakab Jombang, Drs. Purwanto, M.KP, menyebut inisiatif ini sebagai standar baru bagi daerah lain di Indonesia. Menurutnya, pemenuhan hak bagi kelompok rentan dalam menghadapi risiko bencana adalah tolok ukur keberhasilan sebuah daerah dalam memanusiakan warganya.

Simulasi yang dipandu oleh tim ahli dari BPBD Kabupaten Jombang ini dikemas secara interaktif dan ramah anak. Para siswa SLB dibekali keterampilan praktis mengenai:

Identifikasi dini tanda bahaya.

Prosedur penyelamatan mandiri.

Teknik evakuasi yang aman sesuai kebutuhan khusus.

Selain aspek teknis, peringatan HKB 2026 juga menjadi panggung kepercayaan diri bagi para siswa. Berbagai unjuk bakat mulai dari fashion show, tari, hingga penampilan menyanyi turut menyemarakkan acara, membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berkontribusi dalam budaya sadar bencana.

Keberhasilan acara ini merupakan buah kolaborasi solid antara BPBD, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, para pendidik SLB, dan orang tua. Sinergi ini diharapkan mampu membangun ekosistem kesiapsiagaan yang permanen di Jombang, memastikan setiap nyawa terlindungi saat krisis melanda.

Dengan konsistensi ini, Kabupaten Jombang tidak hanya memperingati hari besar, tetapi tengah mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru negeri: bahwa ketangguhan bencana yang sejati adalah ketangguhan yang tidak meninggalkan siapapun di belakang (Leave No One Behind). (***)

LAINNYA
x
x